TERCEKIK PEKIK

Kesekian kalinya, aku memilih untuk diam. Dia mulai menjauh, dia yang sedari dulu aku ingini. Maklum beberapa hari ini orang-orang dilingkaran kami mulai mengusik dengan candaan yang membabi buta. Aku tahu itu membuat dia risih.

Konsekuensi yang harus aku terima memang. Bagaimana lagi. Ada yang tidak dia ingini dalam ketahuan orang-orang dilingkaran kami. Aku yang awalnya menyembunyikan perasaan ini juga mulai curiga pada orang-orang ini tentang perasaanku tersebut.

Saat ini aku hanya ingin dia seperti dulu, yang tidak sungkan akan hadirku dikehidupannya. Tidak lebih.

Aku tahu saat ini cinta sedang menertawakan aku. Cinta terbahak-bahak. Tapi apa mau dikata memang begitu nyatanya.

Ada jarak yang ingin aku pangkas. Tapi dia mengisyaratkan "jangan, cukup, aku dan kamu adalah jarak tersebut".

Dasarnya memang aku yang keras kepala lebih memilih untuk menaruh pedang di jantungku yang setiap saat bisa menghujam dalam, dibandingkan dengan melepas pedang tersebut kemudian mengambil sesuatu yang lain, yang tidak menyakiti.

Dan pada akhirnya aku mengalah pada keadaan.

Membiarkan dia semakin menjauh, semakin berjarak. Lantas mengapa aku mengorbankan perasaanku sementara menjadi temannya pun tak bisa ?. Terkadang kenyataan memang sekejam ini, membiarkan aku terbunuh oleh pedang yang sedari dulu aku genggam.

Sekejap menghentikan detak detik, mencekik kebebasan yang selama ini aku idamkan. Kebebasan untuk tertawa bersama, bermain bersama,dan mengeluh bersama.

 Aku dan dia menjadi orang asing.



Comments

Popular posts from this blog

HARI KARTINI

Gus Mus dan Cak Nun

Gunung Pundak Bagi Pemula