Nonton Dilan 1991 (sendirian)


gambar dilan kartun
ilustrasi diri sendiri



Sebagai fans garis keras novel Dilan tentu senang jika difilmkan, saya sudah tau kebanyakan film adaptasi novel tidak sebagus novel tersebut, karena imajinasi saat membaca novel itu tak terbatas, sementara imajinasi saat menonton film sudah di atur dan di setting oleh sutradara. jadi ya wajar novel lebih bagus dari film. Apalagi di film pertamanya yang tidak begitu istimewa.

Hari pertama pemutaran saya memantau tixid, dan gila sudah penuh semua, tidak kebagian tiket. Termasuk juga hari kedua dan ketiga. Nah kebetulan kan sudah banyak yang nonton jadi review di sosmed sudah pada muncul, kebanyakan memberikan penilaian negatif. Lebay, gombalannya receh, nuansa 91' nya kurang kuat, dan lain-lain.

Awalnya saya ragu setelah membaca review netizen, apalagi teman-teman yang saya ajak menonton mereka pada nolak. Tapi bentar ini karena memang mereka tidak tertarik sama filmnya atau jangan-jangan karena tidak tertarik sama saya hahahahaha.

Setelah mempertimbangkan akhirnya saya memutuskan untuk menonton bagaimanapun filmnya. Kapan lagi ada novel kesukaan difilmkan.

kebetulan kemarin juga dapet promo 15 ribu hahahaha, dan sialnya promonya cuman buat satu tiket, jadi saya nonton film yang nggombal-nggombal sendirian.

Setelah 6 hari tayang di bioskop, entah karena weekday atau memang sudah sepi peminatnya yang nonton cuman dikit, sekitar 20an orang. Tapi pas masuk theaternya saya sudah berperasaan tidak enak, karena sebelah kursi yang saya pilih ada 2 makhluk cewek cowok yang saya indikasikan pacaran, tapi kenapa didekat kursi saya. Menjengkelkan, saya ingat kok sewaktu memesan tiket masih kosong itu kursi, jadi saya menyimpulkan mereka memang memesan kursi didekat 1 kursi yang sudah saya pesan.

Mbok ya pas milih kursi tau diri, kelihatan ada kursi sudah dipesan satu menandakan dia sendirian, sementara mereka berpasangan, disekolahan kan ada tuh pelajaran PPKN yang bab Toleransi. hahahahaha  oke fix mereka sengaja.

Selama film diputar, saya baper melihat Dilan dan Milea, gombalannya memang receh tapi saya suka, seperti di novelnya Dilan receh tapi ngena, senyum-senyum sendiri. Milea di film ini juga semakin mendekati imajinasi saya tentang Milea saat membaca novel. Kalau soal Dilannya sih memang tidak semenarik di imajinasi saya, tetapi Dilan di film ini juga sudah semakin keren dari sebelumnya.

Mungkin yang bilang lebay dan receh memang belum membaca novelnya. Saya tidak peduli yang penting saya suka.

Tapi selain baper karena film saya juga baper karena orang di sebelah saya tadi, kenapa mereka tidak bergandengan tangan selama film diputar hahahaha. Atau mereka sebenarnya belum pacaran ? masuk akal sih, kalau memang belum pacaran.

 jadi yang cowok tanya ke cewek pas mesen tiket

"hmmm enaknya dimana ya ?"
"disini saja" sicewek menjawab sambil menunjuk kursi sebelah pesanan saya dan berbicara dalam hati kita belum pacaran jadi milih kursinya yang rame-rame saja nempel ke kursi yang sudah dipesan, biar tidak ada kesempatan megang-megang tangan.

Hahahahaha gitu sih menurut analisa saya.

Saya keluar dari bioskop dengan bahagia, bahagia karena filmnya tidak seburuk kata-kata orang, dan karena pasangan disebelah saya tidak ngapa-ngapain di bioskop hahahaha.

Terimakasih.









Comments

Popular posts from this blog

HARI KARTINI

PERPUSTAKAAN DAERAH ( PERPUSDA)

Gunung Pundak Bagi Pemula