Jas Hujan Berwarna Pink




Kita balik lagi ke bulan februari. Saat itu saya lagi kosong, lagi hampa sehampa-hampanya setelah saya membuat keputusan yang dilematis.  Saya lebih memilih mengindar dari orang yang jahat, walaupun belum sempet pacarin sih. Intinya saya memilih menghilang daripada terluka dan terus terluka.

Lalu teman saya ada yang mengajak naik gunung, sempat beberapa kali saya tolak karena saya lagi males naik dan bermalam di gunung. ribet pikir saya. tapi dia sangat memaksa. dan pada akhirnya saya mengiyakan ajakan tersebut dengan satu syarat yaitu perlengkapan camping dibawa dia semua hehehe.

Dan cerita ini pun dimulai, sebuah cerita yang tak terduga. Dari beberapa orang yang ikut terselip seseorang yang spesial, yang sejak saya pertama memandang berhasil membuat jantung berdegup kencang. Tapi... dia bersama seorang lelaki yang kemungkinan itu pacarnya.

Selama perjalanan saya tak henti-henti mencuri pandang, manis tapi juga lucu, ah sial aku jatuh cinta pada pacar orang.

Sepertinya langit mendengar rundungan saya, langitpun menunjukkan simpatinya, langit ikut bersedih, hujan mulai turun. Rombongan kami berteduh sejenak, mempersiapkan alat untuk menembus lebatnya hujan.

ternyata saya lupa membawa jas hujan. kampret !!

"ini loh pake jas hujan ku saja mas" kata seseorang yang spesial tadi sambil menyodorkan jas hujan.
"emm..... anu, terus kamu pake apa  ?" saya balik bertanya ke dia
"ini mas ryan sudah bawa jas kok"
"makasih, tapi tak beli jas indomaret saja" tolak saya dengan halus.

Rasa bercampur aduk antara senang juga sedih, senang karena dia rela meminjamkan jasnya dan sedih karena JAS HUJANNYA BERWARNA PINK. Mau nerima juga malu pas make nya, mau nolak ntar dikira sombong. Dilematis.

Saya memutuskan untuk beli jas indomaret seharga sepuluh ribuan kalau nggak salah, lupa. Perjalanan pun berlanjut dengan berhujan-hujan.

Setelah beberapa saat menembus hujan dan melewati beberapa hutan  kami pun sampai di pos pendakian Gunung Pundak. Salah satu teman saya yang sedari tadi mengeluh lapar dengan sigap menggelar kertas minyak di atas tanah kemudian ia mengeluarkan satu persatu nasi bungkus yang sudah kami beli dalam perjalanan. 

Kami pun makan malam ramai-ramai, makan di saat yang tepat, karena sebelum kita melakukan pendakian sebaiknya perut dalam keadaan tidak lapar. 

****

Cerita itu pun berlanjut ketika ia, seseorang yang spesial tadi kesusahan untuk melangkah di salah satu spot treking pendakian. Saya serba salah, hati ingin menolong karena ingin cari perhatian, tapi otak mengisyaratkan jangan menolong karena tidak enak dengan cowok yang saya kira pacarnya tadi. Dan untuk kali ini saya menuruti perintah otak.

Sekali dua kali saya menuruti otak, tapi untuk yang ketiga kalinya saya memilih hati, memilih untuk tenggelam dalam sebuah euforia menarik perhatian lawan jenis, jantung saya berdegup kencang saat berusaha menolong ia untuk naik ke langkah selanjutnya agar ia tidak jatuh. 

Adegan tersebut terjadi beberapa kali yang membuat saya semakin ingin kenal ia lebih jauh. dan puncaknya saat saya, ia, dan satu teman saya sedang istirahat sambil melihat bintang yang menampakkan keindahannya di tengah gelap nya langit. 

"duh bintangnya bagus ya" ia melempar kalimat
"bintang diatas sana apa disini" teman saya menimpali 
"itu bintangnya" kata dia sambil menunjuk saya.

sementara itu saya hanya tersenyum menikmati fatamorgana yang saya buat sendiri bahwa ia juga tertarik sama saya. 

Tuhan biarkan malam ini saya tenggelam dalam kefanaan ini, urusan cowok yang bersamanya itu urusan besok

Sesampainya di puncak kami pun mendirikan tenda, memasak, kemudian makan, dan bermain kartu. jangan ditanya apakah saya selama melakukan kegiatan-kegiatan tersebut saya mencuri pandang ? sudah tentu jawabannya iya saya seringkali menikmati "keindahan" itu.

*** 

Besoknya kami bangun pagi-pagi menikmati fajar, saya bertekad bahwa saya hari ini harus kenal ia, bukan sekedar kenal melainkan saling mengenal. 

Berawal saat foto-foto saya dan seseorang yang spesial tadi memisahkan diri dari rombongan, kami berdua foto tangan masing-masing tapi saling berdekatan hahahaha modus.

"gini loh bagus" saya melempar pujian atas hasil fotonya
"iya ta mas ?" ia menjawab sambil tersipu malu





Saya sejenak berpikir, ini saat yang tepat untuk bertanya status dia, masih single atau memang benar cowok yang bersamanya adalah pacarnya.

"emmm... anu"
"iya apa mas ?"
"cowokmu ndak marah ta kita foto bareng-bareng gini ?"
"cowok yang mana mas ?"

Deg, jawaban dia mengisyaratkan masih single, tapi tunggu dulu saya tidak mau terkecoh dengan jawaban yang masih ambigu belum jelas jeluntrungannya. Saya masih menjaga hati saya agar ndak keburu-buru.

"itu yang bonceng kamu itu loh"
"oh itu, bukan, itu cuman  kakak kelas sewaktu SMA dulu"

Mendengar kepastian itu, saya semakin berfatamorgana,  mencoba mencari sayap yang kemudian saya pasangkan ke punggung karena saya mau terbang, terbang sesaat menikmati alunan jantung saya yang semakin kencang, "yes ada kesempatan".

Matahari yang sedari tadi hanya menampakkan tebaran merah, mulai menunjukkan jati dirinya, menyinari saya dan dia yang semakin berbincang hangat, semakin menunjukkan saling tarik menarik. Canggung tetap ada, tapi hampir tak terasa, kami berdua seperti memiliki dunia sendiri. Situasi dan kondisi memang berpihak pada saya melancarkan jurus-jurus godaan yang menjurus bahwa aku suka dia. Hari itu milik saya.





Beberapa kali saya salah tingkah, tidak bisa menyinkronkan gerakan tubuh dan otak. Dia cuman senyum-senyum melihat tingkah saya.

***


Setelah Foto-foto kamipun kembali ke tenda berkumpul dengan teman-teman, tapi...... lamunan saya masih terpaut disuasana sewaktu foto-foto tadi. Sulit memang untuk pura-pura tidak terjadi apa-apa. 

Saya yang niatnya pulang setelah makan pagi jadi tidak mau pulang karena masih ingin berduaan hahahahahaha.

Saya Bersama Rombongan akhirnya turun dari gunung siang hari, tentu dengan mencuri-curi kesempatan ngobrol dan saling memandang selama perjalanan turun. hehehehehe

Ah sial.... hatiku tertinggal disini, entah terperangkap di sela tenda, entah terinjak pendaki, atau jangan-jangan terpaut di senyum mu ?

Dan Ternyata hubungan itu berlanjut sampai sekarang dengan ia menjadi pacar saya hahahahaha










Comments

Popular posts from this blog

HARI KARTINI

GENG DSD ~ ULTAHE SUROBOYO

Review: Mie Jogging Sidoarjo