Posts

Showing posts from May, 2016

STEAK KW

Image
Saya sebelumnya hanya melihat steak pada film-film hollywood, dimana biasanya sang Tokoh utama mengajak pacarnya atau gebetannya dinner di sebuah restoran, lalu sang pelayan mengantar sebuah makanan yaitu steak, sambil mengiris steak mereka berbincang-bincang manja, lalu selesai makan mereka mengusap mulut mereka dengan selembar sapu tangan, terlihat sangat elegan adegan tersebut, pas untuk kebutuhan film. Selain pada film, saya melihat steak dari gambar di baliho-baliho di rumah makan dan sejenisnya, ya sama sekali belum pernah melihatnya secara langsung, bagaimana bentuk steak, bagaimana baunya, apalagi rasanya, ndak pernah sama sekali. Maklum wong ndeso. Hahahaha.
Dan kemarin saya akhirnya makan steak, walaupun steak KW seratus sih hehehehhe.
Berawal dari “seekor” teman mengajak saya ke Gramedia, entah kenapa kalau dengar gramedia saya semangat walaupun jarak SDA-SBY lumayan “megelkan” dengan kemacetannya dan dengan kepanasannya. 
Sesampai di gramedia saya asyik memilih buku yang …

Raja Telanjang Tak Tahu Diri

Image
Aku berada di titik terendah sebagai manusia, dengan masalah ecek-ecek seperti ini, sudah menyerah. Aku tak menyangka sedalam ini akan membekas di benakku, begitu penting kenangan bersamamu, padahal hanya beberapa kali saja kita berdua. 
Aku pecundang yang tak pernah faham kalau sudah telanjang, aku adalah Miketyson yang di K.O kan Holyfield, aku yang pernah juara sekarang tak lebih hanya sekedar sampah yang berserakan dijalan. 
Melihatku ? Memperhatikanku? Jangan harap, bahkan merasakan bahwa aku ada sajah orang-orang tak mampu. Aku pecundang yang tak faham akan distorsi, akan sebuah reposisi. Aku lah pecundang sejati yang tak berarti. Jika kau bertanya kenapa aku seorang pecundang ? Maka aku sah sah saja menjawab karena aku memang pecundang. 
Aku ditelanjangi oleh sebuah perasaan yang dalam, aku ditelanjangi hatiku sendiri, aku ditelanjangi egoku sendiri, aku ditelanjangi pandanganku sendiri.
 Aku...... lah raja telanjang yang tak tau diri. 


Akhir Sebuah Cerita

Image
Pada awalnya aku adalah segerombolan binatang buas, kawananku yang terbaik, lantang berteriak kesana kemari.
lalu disuatu waktu tiba-tiba aku sendirian, kebingungan, tak ada yang berteriak lagi, semua mendadak jadi pembisu, jadi acuh.
Mereka semacam musuh yang tak mau tahu, bersekongkol menjadi sekumpulan pembisu yang lupa bicara sepatah kata pun
Akupun merasakan menjadi binatang jalangnya Chairil Anwar. “ Aku ini binatang jalang dari kumpulannya aku terbuang”
Aku mencari tahu apa sebabnya, aku kumpulkan potongan-potongan kecil, aku kaitkan, aku sambungkan. Potongan-potongan kecil mulai menunjukkan gambaran seutuhnya.
Aku tahu sebabnya, dan sekumpulan pembisupun mulai membuka mulutnya perlahan-lahan tak lupa pula dengan diikuti kata klasik, MAAF, TAK BERMAKSUD.
Para pembisu yang sudah tak bisu, para pembisu menjadi pembicara.
Aku marah sebagaimana aku harus marah. Kalau aku tak marah, berarti ada yang hilang sebagai binatang, kalau aku tak sedih berarti aku bukan binatang.
Karena se…