Posts

CERITA LAMA yang menjadi CERITA BARU

Sebuah tentang cerita lama. Pada suatu ketika aku tidak sengaja mengerjakan tugas di tempat asing, yang kebetulan nama tempatnya juga CERITA LAMA, salah satu cafe di kota saya. Entah kebetulan apa yang akan terjadi karena saya juga kebetulan mempunyai janji bertemu si cerita lama kehidupan saya.

Pada waktu itu masih masa rekonsiliasi terhadap hubungan kami yang sempat renggang karena sebuah konflik hehehehehe. Ada yang berbeda, ia lebih dewasa, lebih bisa mengerti dan tidak egois. Ini pertama kalinya saya sekian lama tidak bertemu dia. Impresi positif yang menjadi awal sebuah cerita.

Awalnya hanya pertemuan biasa sekadar mengerjakan tugas bersama, nongkrong bersama, makan malam bersama, tanpa ada sesuatu yang timbul, saya pikir ah sudahlah yang lalu berlalu.

Seiring berjalannya waktu pertemuan yang intens membuat saya nyaman hehehehe. Saya yakin ia juga semakin kesini merasakan perasaan yang sama. Awalnya judes perlahan-lahan menjadi ramah, itu salah satu bukti.

Tapi ada satu masalah …

SELENOPHILE

Image
Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan, ia menyebut dirinya Selenophile yang berarti penyuka bulan.

Apapun yang berhubungan dengan bulan ia suka. Ya mungkin mirip sama anak indie yang suka terhadap senja, cuman kan kalau senja kayaknya semua orang suka. Wajar.

kalau bulan ?? baru kali ini saya menjumpainya.

Feed IGnya pun penuh dengan foto-foto keindahan satelit bumi tersebut. Begitupun dengan story IGnya.

Tapi disamping ia "selenophile" rupanya ia pun suka bermain kata, bisa dilihat ia sering mengunggah sajak-sajak indah.

Awalnya saya bertanya-tanya, ternyata ada ya orang yang suka terhadap sesuatu sampai begitu. Apa sih bagusnya memandang bulatan yang bercahaya, atau mengoleksi fotonya, dan menciptakan sajak tentang bulan ?.

Sepertinya saya akan mendapat jawaban pertanyaan-pertanyaan tadi, karena kebetulan saat saya gowes melintasi jalan yang gelap, bulannya terlihat bagus.

Lalu tadi saya mencoba menjadi dia, duduk memandang bulan, menikmati perlahan-lahan keata…

Ah capek

Dia benar-benar menjauh, sudah tidak ada acara makan siang bareng, nonton bareng, dan pulang bareng. Jika kemarin-kemarin masih bisa ketemu minimal seminggu sekali, sekarang tidak bertemu sama sekali. Ya gimana lagi saya harus bisa menerima konsekuensi jika saya terlalu perhatian ke dia sehingga orang-orang disekitar kami menyadari bahwa saya memendam rasa. Dampak lanjutannya dia risih karena setiap kumpul selalu "digojlokin" dan membuat dia memperlebar jarak terhadap saya.

Mau nyapa juga sungkan, mau ngajak juga sungkan, sudah terlalu banyak penolakan hahahaha. Hadir sebagai teman saja di tolak apalagi jika dulu saya hadir sebagai pangeran yang ingin menjadi pacarnya, pasti sudah tahu jawabannya . Sedih cuk.

Dan perlahan-lahan seiring dengan menurunnya intensitas pertemuan, menurun pula rasa saya terhadapnya, ya sekarang sudah biasa saja, ndak rindu juga ndak pengen ketemu. Malahan saya sibuk dengan kerjaan.

Tapi ndak tahu lagi kalau sekali saja bertemu pasti akan runtuh, …

Dasar Plin-Plan

Lagi dan lagi, beberapa saat setelah saya memutuskan untuk mundur saya memutuskan untuk kembali berjuang. Ah dasar plin plan...

Bukan tanpa alasan saya memutuskan hal tersebut.

Bagaimana mungkin saya bisa mengabaikan ia yang sedari tadi saya bonceng, saya curi-curi pandang lewat spion, sementara ia selalu tersenyum, susah.

iya, cuman karena berboncengan.

Memang soal hati sulit bagi saya untuk menolaknya, meskipun berulang kali otak mengisyaratkan untuk mundur demi kesehatan jiwa dan raga saya, tapi sepertinya saya lebih memilih untuk tidak sehat demi menuruti kata hati saya, masalah yang klise.

Kami bersama-sama janjian untuk pegi ke salah satu mol. Tujuannya sederhana hanya ingin mencicipi kedai minuman yang baru dibuka. Karena menurut orang-orang minuman di kedai tersebut layak untuk dicoba.

Sekitar pukul 17.00 kami sampai di tempat. Kami jalan-jalan dulu dikarenakan teman kami yang satunya masih belum terlihat. Kami pun berbincang bercerita tentang cita-cita sedari kecil sampai sa…

TERCEKIK PEKIK

Kesekian kalinya, aku memilih untuk diam. Dia mulai menjauh, dia yang sedari dulu aku ingini. Maklum beberapa hari ini orang-orang dilingkaran kami mulai mengusik dengan candaan yang membabi buta. Aku tahu itu membuat dia risih.

Konsekuensi yang harus aku terima memang. Bagaimana lagi. Ada yang tidak dia ingini dalam ketahuan orang-orang dilingkaran kami. Aku yang awalnya menyembunyikan perasaan ini juga mulai curiga pada orang-orang ini tentang perasaanku tersebut.

Saat ini aku hanya ingin dia seperti dulu, yang tidak sungkan akan hadirku dikehidupannya. Tidak lebih.

Aku tahu saat ini cinta sedang menertawakan aku. Cinta terbahak-bahak. Tapi apa mau dikata memang begitu nyatanya.

Ada jarak yang ingin aku pangkas. Tapi dia mengisyaratkan "jangan, cukup, aku dan kamu adalah jarak tersebut".

Dasarnya memang aku yang keras kepala lebih memilih untuk menaruh pedang di jantungku yang setiap saat bisa menghujam dalam, dibandingkan dengan melepas pedang tersebut kemudian mengambil…

yang ku nanti

Image
Akhirnya momen itu hadir juga, momen yang lama saya nanti.
Sudah lama saya menanti berboncengan degan si dia, yap tidak muluk-muluk berboncengan, entah setiap saya modus selalu gagal hahaha, ada saja halangannya.
Tapi tidak kemarin.
Kemarin saya, ia, dan satu teman saya takziah ke salah satu teman. Awalnya ya biasa saja, seperti takziah pada umumnya. Menjadi tidak biasa bagi saya ketika kami pulang, entah karena teman saya yang satu  ini tahu bahwa saya ada rasa pada si doi ini atau memang males nganterin si doi karena arah pulangnya berbeda. Teman saya menyuruh si doi untuk nebeng saya, karena si doi berangkatnya nebeng sama temen saya.
Saya dengan malu-malu tapi mau tentu saja mengiyakan. Sambil senyum-senyum saya menerima dengan ikhlas si doi naik ke motor saya. Tiap hari juga saya bersedia.
Selama perjalanan kami mengobrol, tapi cuman sebentar karena cuman beberapa ratus meter. Ah sial rasanya ingin mengelilingi kota kalau gini, karena ngobrol sambil naik motor adalah kenikmatan …

Nonton Dilan 1991 (sendirian)

Image
Sebagai fans garis keras novel Dilan tentu senang jika difilmkan, saya sudah tau kebanyakan film adaptasi novel tidak sebagus novel tersebut, karena imajinasi saat membaca novel itu tak terbatas, sementara imajinasi saat menonton film sudah di atur dan di setting oleh sutradara. jadi ya wajar novel lebih bagus dari film. Apalagi di film pertamanya yang tidak begitu istimewa.

Hari pertama pemutaran saya memantau tixid, dan gila sudah penuh semua, tidak kebagian tiket. Termasuk juga hari kedua dan ketiga. Nah kebetulan kan sudah banyak yang nonton jadi review di sosmed sudah pada muncul, kebanyakan memberikan penilaian negatif. Lebay, gombalannya receh, nuansa 91' nya kurang kuat, dan lain-lain.

Awalnya saya ragu setelah membaca review netizen, apalagi teman-teman yang saya ajak menonton mereka pada nolak. Tapi bentar ini karena memang mereka tidak tertarik sama filmnya atau jangan-jangan karena tidak tertarik sama saya hahahahaha.

Setelah mempertimbangkan akhirnya saya memutuskan …