Posts

Sebuah Rahasia

Hai saya mau sedikit cerita, sebenarnya sudah lama saya menyimpan rahasia ini. Bingung mau curhat ke siapa, pasti orang terdekat saya akan khawatir jika saya memberitahukan kepada mereka ya mau gimana lagi saya takut.

Benjolan demi benjolan bermunculan perlahan-lahan. Mulai dari benjolan ditangan lalu seiring berjalannya waktu muncul lagi di perut, kalau di perut kira-kira ada 2 benjolan, lalu muncul lagi di pinggang. Itu yang kedeteksi, kalau tidak terdeteksi saya tidak tahu.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, mungkin saat ini lah waktu yang tepat untuk memeriksakan benjolan tersebut.

Doain yang terbaik ya kawan-kawan.

Bila

Bila nanti saya meninggal, apa masih ada orang yang mengingat saya atau hanya angin lalu dilupakan ?

Bila nanti saya sudah tidak ada, apa masih ada orang yang menulis tentang saya ? memajang foto saya ?

Sekadar bila dan hanya ingin tahu saja.

Tetiba terlintas karena beberapa hari terakhir cerita kematian muncul dihadapan saya.

Saya takut bila hanya saya hilang lalu dilupakan.

CERITA LAMA yang menjadi CERITA BARU

Sebuah tentang cerita lama. Pada suatu ketika aku tidak sengaja mengerjakan tugas di tempat asing, yang kebetulan nama tempatnya juga CERITA LAMA, salah satu cafe di kota saya. Entah kebetulan apa yang akan terjadi karena saya juga kebetulan mempunyai janji bertemu si cerita lama kehidupan saya.

Pada waktu itu masih masa rekonsiliasi terhadap hubungan kami yang sempat renggang karena sebuah konflik hehehehehe. Ada yang berbeda, ia lebih dewasa, lebih bisa mengerti dan tidak egois. Ini pertama kalinya saya sekian lama tidak bertemu dia. Impresi positif yang menjadi awal sebuah cerita.

Awalnya hanya pertemuan biasa sekadar mengerjakan tugas bersama, nongkrong bersama, makan malam bersama, tanpa ada sesuatu yang timbul, saya pikir ah sudahlah yang lalu berlalu.

Seiring berjalannya waktu pertemuan yang intens membuat saya nyaman hehehehe. Saya yakin ia juga semakin kesini merasakan perasaan yang sama. Awalnya judes perlahan-lahan menjadi ramah, itu salah satu bukti.

Tapi ada satu masalah …

SELENOPHILE

Image
Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan, ia menyebut dirinya Selenophile yang berarti penyuka bulan.

Apapun yang berhubungan dengan bulan ia suka. Ya mungkin mirip sama anak indie yang suka terhadap senja, cuman kan kalau senja kayaknya semua orang suka. Wajar.

kalau bulan ?? baru kali ini saya menjumpainya.

Feed IGnya pun penuh dengan foto-foto keindahan satelit bumi tersebut. Begitupun dengan story IGnya.

Tapi disamping ia "selenophile" rupanya ia pun suka bermain kata, bisa dilihat ia sering mengunggah sajak-sajak indah.

Awalnya saya bertanya-tanya, ternyata ada ya orang yang suka terhadap sesuatu sampai begitu. Apa sih bagusnya memandang bulatan yang bercahaya, atau mengoleksi fotonya, dan menciptakan sajak tentang bulan ?.

Sepertinya saya akan mendapat jawaban pertanyaan-pertanyaan tadi, karena kebetulan saat saya gowes melintasi jalan yang gelap, bulannya terlihat bagus.

Lalu tadi saya mencoba menjadi dia, duduk memandang bulan, menikmati perlahan-lahan keata…

Ah capek

Dia benar-benar menjauh, sudah tidak ada acara makan siang bareng, nonton bareng, dan pulang bareng. Jika kemarin-kemarin masih bisa ketemu minimal seminggu sekali, sekarang tidak bertemu sama sekali. Ya gimana lagi saya harus bisa menerima konsekuensi jika saya terlalu perhatian ke dia sehingga orang-orang disekitar kami menyadari bahwa saya memendam rasa. Dampak lanjutannya dia risih karena setiap kumpul selalu "digojlokin" dan membuat dia memperlebar jarak terhadap saya.

Mau nyapa juga sungkan, mau ngajak juga sungkan, sudah terlalu banyak penolakan hahahaha. Hadir sebagai teman saja di tolak apalagi jika dulu saya hadir sebagai pangeran yang ingin menjadi pacarnya, pasti sudah tahu jawabannya . Sedih cuk.

Dan perlahan-lahan seiring dengan menurunnya intensitas pertemuan, menurun pula rasa saya terhadapnya, ya sekarang sudah biasa saja, ndak rindu juga ndak pengen ketemu. Malahan saya sibuk dengan kerjaan.

Tapi ndak tahu lagi kalau sekali saja bertemu pasti akan runtuh, …

Dasar Plin-Plan

Lagi dan lagi, beberapa saat setelah saya memutuskan untuk mundur saya memutuskan untuk kembali berjuang. Ah dasar plin plan...

Bukan tanpa alasan saya memutuskan hal tersebut.

Bagaimana mungkin saya bisa mengabaikan ia yang sedari tadi saya bonceng, saya curi-curi pandang lewat spion, sementara ia selalu tersenyum, susah.

iya, cuman karena berboncengan.

Memang soal hati sulit bagi saya untuk menolaknya, meskipun berulang kali otak mengisyaratkan untuk mundur demi kesehatan jiwa dan raga saya, tapi sepertinya saya lebih memilih untuk tidak sehat demi menuruti kata hati saya, masalah yang klise.

Kami bersama-sama janjian untuk pegi ke salah satu mol. Tujuannya sederhana hanya ingin mencicipi kedai minuman yang baru dibuka. Karena menurut orang-orang minuman di kedai tersebut layak untuk dicoba.

Sekitar pukul 17.00 kami sampai di tempat. Kami jalan-jalan dulu dikarenakan teman kami yang satunya masih belum terlihat. Kami pun berbincang bercerita tentang cita-cita sedari kecil sampai sa…

TERCEKIK PEKIK

Kesekian kalinya, aku memilih untuk diam. Dia mulai menjauh, dia yang sedari dulu aku ingini. Maklum beberapa hari ini orang-orang dilingkaran kami mulai mengusik dengan candaan yang membabi buta. Aku tahu itu membuat dia risih.

Konsekuensi yang harus aku terima memang. Bagaimana lagi. Ada yang tidak dia ingini dalam ketahuan orang-orang dilingkaran kami. Aku yang awalnya menyembunyikan perasaan ini juga mulai curiga pada orang-orang ini tentang perasaanku tersebut.

Saat ini aku hanya ingin dia seperti dulu, yang tidak sungkan akan hadirku dikehidupannya. Tidak lebih.

Aku tahu saat ini cinta sedang menertawakan aku. Cinta terbahak-bahak. Tapi apa mau dikata memang begitu nyatanya.

Ada jarak yang ingin aku pangkas. Tapi dia mengisyaratkan "jangan, cukup, aku dan kamu adalah jarak tersebut".

Dasarnya memang aku yang keras kepala lebih memilih untuk menaruh pedang di jantungku yang setiap saat bisa menghujam dalam, dibandingkan dengan melepas pedang tersebut kemudian mengambil…