Akhir Sebuah Cerita






Pada awalnya aku adalah segerombolan binatang buas, kawananku yang terbaik, lantang berteriak kesana kemari.

lalu disuatu waktu tiba-tiba aku sendirian, kebingungan, tak ada yang berteriak lagi, semua mendadak jadi pembisu, jadi acuh.

Mereka semacam musuh yang tak mau tahu, bersekongkol menjadi sekumpulan pembisu yang lupa bicara sepatah kata pun

Akupun merasakan menjadi binatang jalangnya Chairil Anwar. “ Aku ini binatang jalang dari kumpulannya aku terbuang”

Aku mencari tahu apa sebabnya, aku kumpulkan potongan-potongan kecil, aku kaitkan, aku sambungkan. Potongan-potongan kecil mulai menunjukkan gambaran seutuhnya.

Aku tahu sebabnya, dan sekumpulan pembisupun mulai membuka mulutnya perlahan-lahan tak lupa pula dengan diikuti kata klasik, MAAF, TAK BERMAKSUD.

Para pembisu yang sudah tak bisu, para pembisu menjadi pembicara.

Aku marah sebagaimana aku harus marah. Kalau aku tak marah, berarti ada yang hilang sebagai binatang, kalau aku tak sedih berarti aku bukan binatang.

Karena sebabnya adalah akhir sebuah cerita