Selalu Berlebihan Saat Menyukai dan Mencintai Sesuatu


variasi tanda tanya





Saya selalu berlebihan saat menyukai dan mencintai sesuatu, dan saya sadar bahwa itu tidak baik buat saya. Dulu saat kuliah teman-teman saya memanggil saya autis, bukan karena saya benar-benar “spesial” tapi karena waktu itu saya lagi suka-sukanya sama aplikasi chatting mig33 dan mixit. Saat perkuliahan berlangsung sangat langkah melihat saya menaruh kepala saya memandang kedepan kelas, kepala saya selalu menunduk sambil sesekali tersenyum sendiri. 

Dimanapun saya berada di kampus, saya selalu menunduk dan menunduk, tidak menghiraukan sama sekali keadaan sekitar saya, jadi saya memaklumi bahwa saya dipanggil autis, karena memang saya sangat asyik dengan dunia saya sendiri. 

Ke”autis”an saya pun berlaku terhadap musik, pada waktu itu kira-kira 3 bulan setelah saya patah kaki, saya rela melihat konser tipe-x yang waktu itu memang menjadi band favorit saya, saya rela menahan sakit waktu dibonceng teman saya dari sidoarjo menuju ke surabaya, juga bukan hal muda dengan kaki menggantung satu kemudian berjalan menggunakan tongkat dari parkiran menuju tempat konser. 

Tak henti-hentinya sekumpulan orang yang saya lewati memandang tajam ke arah saya, entah antara iba atau mengira saya cacat, dan saya masa bodoh, yang penting bisa masuk dan melihat band kesayangan saya berada di panggung, Sesimpel itu. Ya menurut saya mencintai sesuatu tak harus dengan alasan yang bertele-tele. 

Lalu ke”autis”an saya juga berlaku terhadap perjalanan asmara saya, saya selalu ndak bisa multitasking kalau masalah cinta, bagi saya semua ndak penting kecuali orang yang saya cintai. Bahkan saya sering melalaikan orang sekitar saya demi orang yang saya cintai, ya dan saya sangat sadar akan sifat saya yang tidak baik ini. Dan seringkali sifat saya itu menjadi boomerang melukai diri saya. 

Karena saya sering lupa bahwa cinta, kesetiaan, kasih sayang itu jalannya satu arah, bukan dua arah. Kita cinta dia, belum tentu dia juga cinta kita. Kita setia, belum tentu dia juga setia. Kita sayang, belum tentu dia juga sayang. Dan kita sama sekali ndak bisa menuntut, Ya karena pada hakekatnya itu semua subyektif, bukan obyektif yang berjalan dua arah. 

Dan baru-baru ini ke”autis”an saya berulah lagi, saya terlalu mencintai seseorang, dan di saat saya benar-benar sayang, seseorang itu pergi begitu sajah, ya meskipun fisiknya seringkali bertemu, tapi tak kasat matanya yang pergi, entah kemana. Dan bodohnya itu terjadi untuk ke dua kali, saya tertipu oleh harapan semu, harapan kosong yang saya idamkan. Dan yang paling saya sesali adalah saya ndak tau alasan dia melakukan itu karena apa, mungkin saya harus membiarkan waktu yang akan menjawabnya sendiri.

Dan saya ndak mau itu terjadi untuk ke tiga kalinya, cukup kekasihku, aku lelah berpura-pura menganggap tak kasat matamu saat ini adalah tak kasat matamu yang dulu, biarkan tak kasat matamu yang dulu pergi, jangan kau memakai tak kasat matamu saat ini untuk menjadi tak kasat matamu yang dulu, karena pada dasarnya tak kasat matamu yang sekarang tak pandai berakting layaknya sinetron indonesia.

















1 komentar

memang benar saat menyukai berlebihan apalagi kalau belum memeiliki. setelah memiliki biasanya perlahan melupakan