Kirana






“Jika langkah kaki tak pernah tau tujuan sebenarnya maka lari akan menunjukkan seberapa jauh tujuan sebenarnya. Tidak akan ada genangan air yang akan menghentikan, kecuali pengabaian.”

“puisi dari jason mayer ?”

“yap benar, suka puisi juga ?”

Kirana kelihatan akrab dengan pria yang baru ia temui di stasiun itu, tidak ada rasa canggung seperti kebanyakan gadis remaja yang  bertemu orang asing.

“iya, kebetulan di perpustakaan sekolah ku ada beberapa karangan jason mayer”

“wow, baru kali ini aku tahu ada sekolah yang menempatkan buku puisi jason mayer, kamu tau lah bagaimana biasanya perpustakaan sekolah hanya memajang buku puisi chairil anwar”

“ya memang benar, tapi sekolahku berbeda dengan kebanyakan sekolah pada umumnya”
“sekolah internasional ?”

“bukan, sekolah terbuka, besok lusa kau bisa mengunjunginya, dan kau akan pasti suka”.  Tepat di akhir kalimat Kirana pergi meninggalkan sebuah kertas kecil, yang kemudian diambil oleh pria yang sekitar 30 menit-an menemani ia mengobrol.


****

apakah buah apel nenek sihir yang akan membunuh putri tidur ? bukan, kesepian lah yang akan membunuhnya

Kirana keluar mengintip dari balik pintu, ia penasaran siapa orang gila yang teriak-teriak salah satu bait puisi jasonmayer, ia tersenyum setelah mengetahui siapa orangnya.

“apakah planet asalmu tidak ada pintu ? bertamu tidak mengetuk pintu malah teriak-teriak seperti orang gila” kirana membukakan pintu.

“bukankah orang yang spesial akan datang dengan spesial juga ?” pria itu membungkukan badan  layaknya pangeran yang mempersilahkan putri berdansa dengannya.

Kirana tersenyum mendengar jawaban dan gerakan pria itu, orang yang aneh akan juga bertemu dengan orang aneh. Kirana menyadari itu, karena hampir setiap pagi dirinya berkaca sambil membacakan puisi jason mayer dengan bergaya mengikuti setiap kalimat.

“darimana kau tau alamat ku ? pasti kau punya kemampuan untuk mendeteksi keberadaan putri tidur yang cantik ini”

“aku tidak perlu mengeluarkan kemampuanku, aku menemukan kertas yang bertuliskan alamat ini dari utusanmu yang cantik kemarin, entah kenapa utusanmu lebih cantik dan menyenangkan daripada putri tidurnya sendiri”

“dasar orang aneh”  Kirana menyimpulkan bibirnya lalu mempersilahkan pria itu masuk kedalam bangunan tua peninggalan belanda.

“apakah begini cara planetmu menyambut tamu dari planet lain yang harus melewati beberapa blackhole untuk kesini ?”

“nanti kau lihat sendiri bagaimana cara planetku memberikan sambutan yang sesungguhnya” Kirana tersenyum untuk kesekian kalinya mendengar perkataan pria itu.

“banyak juga bangku nya ya, ada berapa anak yang belajar disini ?”

“aku tak tau jumlah pastinya karena setiap hari yang datang tak menentu, kebanyakan mereka lebih takut kepada orang tuanya daripada gurunya”

“maksudmu mereka lebih memilih bekerja membantu orang tuanya daripada sekolah ?”

“tepat sekali, jadi setiap hari aku berdoa agar mereka lebih memilih sekolah yang akan bisa merubah nasib mereka”

“persoalan yang rumit, tapi aku suka dengan suasananya tepat seperti yang kau katakan di stasiun kemarin lusa” pria itu duduk sambil memainkan jarinya diatas meja, menimbulkan bunyi yang berirama seperti suara langkah kuda.

“aku tidak pernah bohong. iya memang rumit, apalagi kebanyakan guru disini tidak ada yang bertahan lama, ada beberapa alasan yang selalu di ucapkan mereka waktu mengundurkan diri, yang utama ialah tidak adanya gaji, lalu di ikuti dengan terpencilnya desa ini, bayangkan jika di kota mereka bisa mendapatkan apapun yang ia butuhkan, tidak disini. Mereka harus berjuang dulu, misalkan kalau ingin mandi, maka harus menimbah dulu, kalau mau masak harus menyalakan api dengan susah payah, belum lagi harus meniup untuk menjaga apinya agar tetap menyala, itu bukan hal yang mudah dilakukan oleh seorang gadis kota manja yang baru lulus kuliah ingin menjadi  PNS” kirana menunjukkan kekecewaannya.

“lalu bagaimana denganmu ? bagaimana kamu bisa bertahan disini ?”

 “oke lah tidak usah dijawab” pria itu menimpali ucapannya karena melihat Kirana tertegun tidak bisa menjawab pertanyannya barusan.

****

“ayo aku tunjukan bagaimana planetku menyambut tamu dari planet lain yang sesungguhnya dan mengapa aku bertahan disini” Kirana menarik pria itu ke pematang sawah, siluet pohon kelapa dan bukit menyambut mesra, jingganya langit sore menampik semua cerita kirana soal bagaimana susahnya hidup di sini tadi. Apalagi ditambah suara gemercik air irigasi sawah, sahut-sahutan suara burung pulang ke sarang, suara samar adzan dari toak mushola sebelah kali kecil.

“sempurna kirana, sambutan planetmu memang indah, di jam yang sama seperti saat ini, diplanetku hanya suara bising kendaraan dan klakson yang terdengar,  kepulan asap dari kenalpot dan cerobong pabrik yang menghiasi langit,  suara adzan ? apalagi, tidak terdengar sama sekali, bayangan gedung yang menjadi siluetnya, sangat membosankan” 

Setelah menikmati senja di pematang sawah, kirana mengajak pria itu duduk di gubuk petani dan menikmati malam dengan cahaya lampu tempel. Dengan cahaya yang minim maka bintang lah yang ambil bagian menampilkan keindahannya.

“kau sudah tahu kan alasannya ?” kirana kembali tersenyum, raut puas jelas tersirat di wajahnya, ia berhasil membuat takjub seorang pria dari planet lain.

“iya , pilihan tepat kirana kau lebih memilih planet ini daripada hidup nyaman di planet yang membosankan itu. Mungkin jika aku menjadi kau, aku juga akan memilih keputusan yang sama”

“lalu, bagaimana dengan keputusanmu sendiri soal yang kau bicarakan kemarin?”

“oh soal itu, sepertinya sekolahmu memang tempat yang tepat untuk penelitian skripsiku tentang perbedaan fasilitas dan kualitas pendidikan di kota besar dan di desa terpencil”

“bagus kalau begitu, kau tidak perlu lagi keluar masuk desa terpencil untuk observasi tempat penelitianmu, jadi mulai kapan kau akan kesini lagi melakukan penelitian itu ?”

“aku tak tahu kirana, tapi yang pasti besok aku akan pulang ke planetku. aku curiga, kau sebenarnya menanti kehadiranku lagi disini karena memang kau ingin aku disini kirana, bukan karena penelitianku” pria itu tersenyum mencoba menggoda Kirana.

“mana mungkin seorang gadis dari planet yang indah ini bisa menanti kehadiran seorang pria dari planet yang jelek itu” Kirana menimpali candaan pria itu. Kemudian di ikuti dengan keduanya tertawa.


Bersambung..........