butiran debu

wanita itu menatap tajam ke arahku, seakan harimau lapar yang siap menerkam.
"kau kenal dia gas?"
"tidak din, atau aku yang lupa?"
"hati-hati gas sama dia, kayaknya dia punya masa lalu yang suram denganmu", cetus teman baikku yang saat ini disebelahku.
"tenang din aku bakal baik-baik saja kok" jawabku sambil tersenyum.

2 jam berlalu, wanita itu sepertinya tak mau melepaskan pandangan sedetik pun dari aku, semakin menimbulkan rasa penasaran "siapa dia?", "apa hubungannya dengan aku?". belum sempat aku menyadarkan diri dari lamunanku tiba-tiba dia menghampiri aku dengan memegang segelas anggur.
 "silahkan diminum" dia berkata sambil menyodorkan gelas yang dipegangnya.
"makasih" ucapku seadanya, aku seakan megulangi kejadianku beberapa tahun silam.
 "kamu siapa?, apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanyaku tergesah.
 dia tak menjawab hanya memalingkan muka dan tersenyum kecil, perbuatannya semakin membuat aku penasaran, tiba-tiba ada suara yang membisikkan beberapa kalimat di telingaku.
"dia adalah istrimu yang kedua yang kamu bunuh tahun lalu, yang kau khianati  cintanya. Dia tanpamu adalah biutiran debu". aku tak percaya apa yang kulihat dan kudengar saat ini.